Indonesia merupakan tanah kelahiran kita
sebagai warga negara indonesia. Setiap penduduk negara pasti memiliki rasa
kecintaan atas tanah airnya. Cinta tanah air merupakan paham kebangsaan yang
selayaknya dimiliki oleh setiap warga negara. Rasa cinta tanah air harus
senantiasa terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat
persatuan, perdamaian, dan kemakmuran suatu negara.
Globalisasi yang membuka luas lajur
transformasi dalam berbagai bidang, selain membawa dampak positif namun
resikonya pun tak kalah berat. Seperti halnya ketika globalisasi tidak selaras
dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan maka terjadilah kerusakan tatanan
kehidupan beragama dan hilanglah rasa cinta terhadap tanah air. Tampaknya
sangat nyata menimpa sebagian anak negeri.
Padahal sungguh, rasa cinta tanah air
telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah ﷺ
كَانَ
إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ
رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبَّها. رواه البخاري))
“Ketika Rasulullah pulang dari bepergian
dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju ontanya; dan bila
mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak- gerakkan karena
cintanya pada Madinah.” (HR. Al-Bukhari)
Mengenai hadits ini, Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya “Fathul Bari”
menegaskan:
وَفِي
الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوْعِيَّةِ حُبَّ
الْوَطَنِ وَالْحَنِيْنِ
“Dalam hadits itu terdapat petunjuk atas
keutamaan Madinah dan disyariatkan-nya mencintai tanah air serta merindukannya.” (Fathul Bari, Juz 3 hal. 705)
Dalam potret sirah nabawiyyah lainnya dikisahkan, di tengah perjalanan
hijrah ke Madinah, Rasulullah sangat merindukan Makkah, tanah kelahirannya.
Jibril datang bertanya: “Apakah Engkau merindukan negerimu?” Rasulullah
menjawab: “Ya”. Lalu turunlah ayat:
اِنَّ
الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَادُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗقُلْ رَّبِّيْٓ
اَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدٰى وَمَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya, “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau
(Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan
mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku mengetahui
orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata”
(QS al-Qashash [28] ayat 85).
Menurut Isma’il Haqqi dalam Tafsir Ruh al-Bayan, pada ayat itu terdapat
isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Bahkan Sayyidina Umar
bin al-Khatab Ra menekankan:
لَوْلَا
حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ، فَبِحُبَّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ
الْبُلْدَانُ. "
“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur suatu
negeri yang terpuruk; maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.”(Tafsir Ruh al-Bayan Juz 6 hal. 320)
Sementara menurut pakar hadits, Syaikh Isma’il bin Muhammad al-‘Ajluni
dalam kitabnya yang berjudul “Kasyf al-Khafa’ ”, cinta tanah air
merupakan hal positif apabila sebabnya adalah menyambung persaudaraan dan
mengasihi fakir miskin serta anak yatim.
Walhasil, cinta tanah air tidak perlu dipertentangkan dengan Islam,
bahkan sebenarnya justru dapat menjadi media mengejawentahkan ajaran-ajarannya.
Semangat cinta tanah air (hubb al-wathan) juga secara tidak langsung dapat
menjadi bagian dari akidah setiap muslim. Wa Allahu A’lam

Posting Komentar